KEBANYAKAN MAHASISWA TERTIPU

“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.” (QS. Luqman: 33)

September 2007 ini adalah deadline atau skak mat alias DO bagi mahasiwa angkatan ’99. Maka tidak mengherankan jika UAD berusaha memanggil para mahasiswa tersebut dan mengadakan “cuci gudang” besar-besaran, tak terkecuali Fakultas Sastra (khususnya Jurusan Sastra Inggris). Singkat cerita, di saat bulan Ramadhan 1428 H ini, dalam keadaan lapar dan dahaga, para dosen menguji skripsi secara marathon, demi kelulusan anak didik mereka. Yang jadi pertanyaan adalah selama 8 tahun menjadi mahasiswa UAD ini, apa yang telah mereka kerjakan?; apakah mereka memilikiplanning yang matang selama masa kuliahnya?; apa visi mereka dalam menjalani kehidupan mereka sebagai mahasiswa (muslim)?


Tulisan ini sebenarnya bukan untuk menyoroti kehidupan mahasiswa angkatan ’99, tetapi berusaha melihat fenomena kehidupan mahasiswa pada umumnya. Sebagai dosen yang juga sudah mengajar selama 8 tahun, penulis merasa prihatin jika melihat mahasiswa tak memiliki visi dan rencana yang jelas; atau kalaupun punya visi, visi itu adopsi dari nilai-nilai yang tidak jelas dan keluar dari jalur Islam.

Pada kenyataannya ada berbagai jenis mahasiswa (pemuda/pemudi) Islam di Indonesia (dan dunia) ini. Pertama, mahasiswa yang ‘nggaya’ punya visi tetapi visi adopsi dari kafir. Kedua, mahasiswa yang senantiasa menuruti hawa nafsunya. Ketiga, mahasiswa cerdas yang bervisi dan berkarakter Islami. Berikut paparannya satu per satu.

Siapakah mahasiswa yang bervisi adopsian kafir? Termasuk dalam kategori ini adalah mahasiswa pemuja akal, bukan ilmu. Mereka adalah pemuda yang lebih percaya pada pemikir-pemikir kafir ala Aristoteles, Socrates dan sejenisnya daripada Profesor (Guru Besar) kita, Nabi Muhammad SAW. Mereka adalah pemuda yang lebih kagum pada Karl Max, Lenin, Gandhi daripada Hasan al-Bashri, Imam Syafi’i, dan imam-imam lainnya. Apakah mereka tidak mengetahui, bahwasannya pemikir-pemikir itu telah menanamkan keragu-raguan akan Esanya dan Agungnya Allah? Ketika Islam telah memiliki nilai-nilai moral dan kemanusiaan yang sangat agung, mengapa mereka lebih memilih ajaran-ajaran dari kaum kafir? Sungguh, mereka telah tertipu.

Ketika musuh-musuh Islam telah kehabisan cara dalam mengalahkan Islam, mereka menemukan cara jitu yang disebarkan melalui pemuda-pemudi Islam yang sedang kebingungan mencari jati diri. Apakah cara jitu mereka itu?Kecintaan akan dunia . Kesenangan akan dunia hiburan (film, musik, fashion, majalah, dll) lebih sering digandrungi pemuda Islam. Betapa beratnya menjadi pemuda-pemudi di jaman sekarang dibanding jaman Rasulullah SAW dulu. Begitu dasyatnya perkembangan dunia hingga kebanyakan pemuda tak kuat menahan syahwatnya untuk mengikuti arus kesenangan dunia. Bagi yang lebih suka mengikutkan hawa nafsunya, jelas lebih menyenangkan mendengarkan musik daripada lantunan Al Quran; jelas lebih terhibur dengan bersantai-santai di mall daripada duduk menghadiri ta’lim di masjid-masjid; jelas “merasa” lebih kelihatan trendy dengan mengikuti perkembangan fashion, daripada bersusah-payah menelaah hadits-hadits shahih. Sungguh, kehidupan dunia dan penipu (syaitan) itu telah memperdaya mereka dari mentaati Allah.

Sebagai pemuda/pemudi Islam, seberapa pahamkah mahasiswa akan jati diri mereka? Usaha apakah yang telah dilakukan untuk memahami jati diri muslim sejati? Mahasiswa cerdas yang bervisi dan berkarakter Islami akan memahami bahwa “Orang mu’min yang paling cerdas adalah yang paling banyak ingat mati dan yang paling baik persiapannya untuk kehidupan sesudah mati. Merekalah orang yang cerdas”. (Lihat Ash Shahihah 1384). Mahasiswa jenis ini tentu tidak mau tertipu dengan kehidupan dunia yang fana dan sesaat ini. Mereka akan berusaha sekuat tenaga mencari jalan yang lurus dan syar’i untuk mencari keridhoan Allah. Mereka akan menggunakan waktunya denganplanning yang matang dan visi Islami. Mereka akan berusaha menjadi salah satu dari 7 (tujuh) golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya; mereka adalahremaja yang senantiasa beribadah kepada Allah Ta’ala (Lihat Ash Shahihah Bukhari Muslim). Andakah mahasiswa cerdas yang bervisi dan berkarakter Islami itu?

Jadi, dari ketiga jenis mahasiswa tersebut, Anda berhak menentukan ingin berada di dalam kelompok yang mana. Namun, supaya diingat bahwa semua ada konsekuensinya masing-masing. Ingin menjadi pemuja akal ala kaum kafir dengan konsekuensi tersesat? Kelompok ini merasa dirinya benar dan pintar, namun tidak cukup cerdas dalam menangkap ilmu yang hakiki. Pendewaannya terhadap akal/logika membuatnya merasa bahwa segala perbuatannya harus didasari logika, padahal agama harus didasari dengan ilmu. Atau, Anda ingin menjadi pemuja nafsu dan tertipu oleh kehidupan dunia dan setan? Kelompok ini tak ubahnya sebagai hamba nafsu syahwat dengan kedok demi keindahan, kecantikan dan kenikmatan. Jenispertama dan kedua ini jelas-jelas sama-sama tertipu. Sungguh, sebaik-baik mahasiswa adalah mahasiswa cerdas yang bervisi dan berkarakter yang sabar menunggu kepastian janji Allah. Kelompok mahasiswa ini sungguh luar biasa dalam menahan nafsu dan melawan arus perkembangan jaman yang begitu kuat. Mereka bukan tidak ingin bersenang-senang dan bernikmat-nikmat dengan kehidupan dunia, tetapiiman di dada begitu menggelora, mengalahkan keinginan-keinginan sesat dan yang hanya sesaat.

Supaya masuk ke dalam kategori ketiga, hanya 2 (dua) hal yang dibutuhkan, yakni keyakinan dan kesabaran. Keyakinan bahwa janji Allah adalah benar dan pasti. Dan, kesabaran dalam menjalani susah-payahnya mentaati-NYA dan mengendalikan hawa nafsu duniawi.

Akhirul kalam, ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan:

1. Pentingnya memahami ilmu agama dan jati diri muslim serta konsekuensinya;

2. Pentingnya memahami tipuan dunia dan setan;

3. Pentingnya memahami makna cerdas yang sesungguhnya;

4. Pentingya keinginan kuat untuk dinaungi Allah di hari Akhir;

5. Pentingnya keyakinan dan kesabaran akan janji Allah.

Wallahu A’lam bi Showab

Basen, Kotagede, 28 Ramadhan 1428 H

Tri Rina Budiwati, S.S., M.Hum.

Dosen Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra

Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

Pengajar Mata Kuliah Sociolinguistics dan Pragmatics

Advertisement

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.